Home

PUSTAKAWAN DAN PERPUSTAKAAN DALAM MENGHADAPI TANTANGAN DI ERA GLOBAL, oleh : Blasius Sudarsono

E-mail Print PDF

Materi disampaikan dalam Seminar Nasional Perpustakaan dengan tema :

Kompetensi dan Sertifikasi Pustakawan

dalam Menghadapi Tantangan dan Persaingan Global

Bogor, 14 September 2011

PENDAHULUAN

Penulis menemukan empat kata kunci atas judul yang diberikan oleh Panitia Seminar. Empat kata kunci tersebut adalah: Pustakawan, Perpustakaan, Tantangan, dan Era Global. Sebenarnya begitu banyak yang dapat dibahas dengan judul tersebut. Oleh karena itu perlu upaya memaknai ke empat kata kunci tersebut untuk membatasi agar bahasan dapat lebih fokus pada hal yang mendasar saja. Secara logis, kata kunci yang dominan dari judul tersebut adalah pengertian dan makna Era Global. Apa yang sebenarnya dimaksud dengan istilah tersebut? Apa yang mungkin dapat terjadi dalam Era Global itu? Apa saja yang menyebabkannya? Selanjutnya mana saja yang menjadi tantangan bagi perpusta­kaan dan pustakawan?

 

Dari pertanyaan tentang arti dan makna era global saja sebenarnya sudah dapat dibayang­kan betapa luas bahasan yang mungkin disampaikan. Hal ini juga menyangkut begitu banyak tafsir atas istilah era global atau proses terkait, yaitu globalisasi. Perlu juga diper­tanyakan apakah memang kita telah sepakat dengan apa yang dimaksud itu sebenarnya? Ataukah kita hanya terjebak dengan kelatahan menyebut era global atau globalisasi itu? Apakah pustakawan di Indonesia sudah menyepakati pengertian tersebut ditinjau dari sudut kepustakawanan? Jelas hal ini sudah dapat menjadi satu topik untuk dibahas secara mendalam. Dari bahasan mendalam inilah sebenarnya Pustakawan Indonesia dapat me­nye­­pa­kati arti dan makna yang jelas saat menyebut istilah tersebut. Namun adakah kemauan kita untuk tidak terjebak pada budaya sesaat (instant) dan/atau pola taken for granted, sehingga mau secara sareh membahasnya?

Dengan memahami pengertian Era Global atau Globalisasi maka dapatlah dipikirkan apa saja yang mungkin terjadi dan penyebabnya. Begitu banyak yang mungkin terjadi. Dari berbagai kejadian tersebut mana yang menjadi ancaman dan mana yang menjadi peluang bagi perpustakaan dan pustakawan? Lalu bagaimana Perpustakaan dan Pustakawan harus menghadapi beragam kejadian itu? Dalam hal ini diperlukan strategi dan kebijakan untuk menghadapinya. Perumusan strategi dan kebijakan menuntut pemahaman akan berbagai kejadian yang mungkin terjadi tersebut serta sebab-sebabnya. Yang jelas, kemampuan membedakan atas ancaman dan peluang menjadi mutlak diperlukan. Namun yang lebih penting adalah bagaimana mengubah ancaman menjadi peluang. Inilah sebagian kemam­puan yang harus dimiliki pustakawan dalam membuat rencana strategis (renstra). Sebagian kemampuan lainnya adalah dalam hal mengubah kelemahan menjadi kekuatan. Kelemahan atau kekuatan adalah milik Perpustakaan dan Pustakawan. Jika kebanyakan memakai analisis SWOT, penulis lebih memilih pendekatan TOWS.

Apakah secara sadar Perpustakaan dan Pustakawan selalu berusaha untuk meningkatkan kemampuan­nya? Pada dasarnya sebuah Perpustakaan adalah Pustakawannya. Jadi semua yang menyangkut kehidupan sebuah Perpustakaan sangat tergantung pada Pustakawannya. Terutama jika pustakawan sudah dianggap atau diterima sebagai Profesional merekalah yang harus menentukan hidup matinya Perpustakaan. Sayang belum semua lembaga menerima Pustakawan sebagai Jabatan Profesional. Dalam lingkup Kantor Pemerintah saja yang sudah menerima tugas Pustakawan dalam Jabatan Fungsional belum sepenuhnya sadar akan konsekuensi dengan adanya jabatan tersebut.

Konsekuensi ini salah satunya adalah dengan mengubah pola organisasi. Ternyata banyak organisasi Lembaga Pemerintah masih menerapkan pola Birokrasi yang sangat kuat. Padahal dengan mengakui adanya Jabatan Fungsional, selayaknya pola organisasi harus diubah menjadi Organisasi Profesional, atau minimal berpola Birokrasi Profesional (Sudarsono, 2005). Selayaknya ada kerjasama yang benar antara Pejabat Struktural dan Pejabat Fungsional Pustakawan. Hal ini justru belum digarap, bahkan kecenderungan yang terjadi ialah pola organisasi Lembaga Pemerintah semakin kuat menuju sifat birokratis feodalistis. Tidak terkecuali juga lembaga perpustakaan yang dimiliki Pemerintah. Namun pertanyaan yang sangat mendasar justru tertuju lebih dahulu pada diri Pustakawan. Apakah Pustakawan mau mengupayakan dirinya bertransformasi menuju Pribadi Profesional? Dengan memiliki kepribadian itu akan memungkinkan Perpustakaan melakukan transformasi dalam era global. Secara sederhana Pustakawan seharusnya melakukan peran utama, dan tidak hanya sekedar melakukannya dengan benar namun terlebih melakukan yang benar dalam menjawab setiap perubahan kejadian.

ERA GLOBAL (GLOBALISASI)

Istilah Era Global dan/atau Globalisasi sebenarnya sudah dibicarakan dan didengar saat kita akan memasuki milenium ketiga (dasawarsa 1990-an), bahkan jauh sebelumnya. Sebagai contoh, Allan Megill bahkan menyebut konsep globalisasi sebenarnya telah ada dalam The Communist Manifesto (1848). Dia menunjukkan kalimat dalam manifesto itu : the bourgeoisie has through its exploitation of the world-market given a cosmopolitan character to production and consumption in every country. Selanjutnya dia terangkan bahwa banyak pemikir abad sembilan belas yang mengindentifikasi munculnya hubungan Eropa dengan dunia luar Eropa, dalam arti upaya Eropa mendominasi dunia luar Eropa melalui perdagangan dan industri yang dikatakannya sebagai proses universal. Upaya membuat dan meyakinkan dunia luar Eropa dengan konsep Eropa itulah sebenarnya awal dari globalisasi. Roh awal globalisasi adalah pada kekuatan negara dan perekonomian yang digunakan Eropa untuk melakukan ”perang” menaklukkan dunia luar Eropa.

Kini konsep globalisasi ternyata tidak jauh meninggalkan roh awal tersebut. Maka tidak mengherankan jika terjadi pro and kontra atas globalisasi. Meskipun demikian nampak­nya globalisasi telah menjadi keniscayaan. Bahkan sangat tidak mungkin membicara­kan perkembangan sosial akhir-akhir ini tanpa merujuk pada globalisasi (Hamelink, 1999). Globalisasi menjadi jargon dalam setiap pembicaraan meski mungkin tidak disadari sepenuhnya arti dan maknanya. Menurut Hamelink, bahkan Anthony Giddens (sosiolog Inggris) sendiri menyatakan sangat sedikitnya pemahaman yang benar atas istilah itu. Untuk memahami konsep globalisasi, Hamelink membedakan dua pendekatan yaitu : 1) sebagai alat analisis dan 2) sebagai agenda politis. Dikatakannya bahwa sebagai alat analisis konsep globalisasi digunakan sebagai alat untuk mendiskripsikan dan menaf­sirkan proses sosial kontemporer. Hasilnya ada dua kelompok. Pertama adalah yang mendu­kung globalisasi dan kelompok kedua yang meragukan globalisasi. Berikut adalah pro dan kontra yang diidentifikasi Hamelink.

Kelompok pendukung melihat globalisasi dengan pandangan prositif seperti : ekonomi pasar bebas menguntungkan masyarakat luas; perdagangan dunia meningkat; percepatan pertumbuhan pasar finansial dunia; peningkatan mobilitas penduduk dunia; bentuk baru perusahaan dunia yang memeratakan proses industri dan menggantikan perusahaan multi nasional yang monopolistis; globalisasi adalah proses sosial yang mengintensifkan kesadaran dunia; kesalingtergantungan (interdependence) ekonomis akan merangsang kesalingtergantungan sosial dunia yang akan memperkokoh eratnya persahabatan antar bangsa; meningkatnya interaksi budaya akan lebih menjadikan saling memahami dan menghargai antar bangsa yang berbudaya berbeda, dll.

Di pihak lain, kelompok yang menentang atau meragukan pada konsep globalisasi jelas berbeda pendapat tentang apa yang diyakini oleh kelompok pendukung globalisasi. Apa yang disampaikan oleh kelompok pendukung dapat disebut masih sebatas ”teori” yang indah. Namun apa yang sebenarnya terjadi? Globalisasi sudah berjalan menghasilkan dampak pada kehidupan masyarakat dunia. Memang jelas ada yang diuntungkan, namun banyak juga yang dirugikan. Pihak pro menganggap yang mendorong globalisasi adalah perkembangan teknologi transportasi dan komunikasi. Pihak kontra sepakat, namun toh lebih menentukan adalah keputusan yang dibuat oleh institusi publik maupaun swasta. Dalam hal ini yang terpenting memang perlunya kebijaksanaan dalam menjawab globalisasi.

Globalisasi sebagai agenda politis juga menimbulkan pro dan kontra. Pihak pendukung menyatakan bahawa globalisasi menciptakan keterbukaan dunia dan pasar yang lebih kompetitif yang pada akhirnya akan meningkatkan kesejahteraan dunia. Hal ini disang­gah oleh kelompok yang menolak karena agenda globalisasi adalah agenda politis neoliberal, jelas akan menguntungkan pihak yang memang sudah kuat. Ditekankan bahwa globalisasi tidak menuju kepada kesejahteraan dunia, namun justru menduniakan kemis­kinan. Dalam bidang budaya dikatakan oleh pihak pendukung bahwa globalisasi akan mempromosikan keberagaman budaya. Di pihak lain pihak penentang mengatakan bahwa yang terjadi adalah pengemasan baru ide lama dari imperialisme budaya.

Hemelink menyebut tiga agenda terpenting untuk menjawab proses globalisasi yang sudah terjadi. Tiga hal tersebut adalah: 1) Globalisasi sebagai kepedulian kemanusiaan, 2) Globalisasi sebagai tantangan moral, dan 3) Globalisasi sebagai tantangan politis. Menurutnya, konsep globalisasi dapat digunakan untuk menyatakan aspirasi masyarakat dunia yang harus selalu menghormati hak asasi manusia, kepekaan dunia atas pen­tingnya solidaritas global, serta pengakuan dan penerimaan keberagaman sosiokultural. Aspirasi ini mensyaratkan program dunia dalam pengembangan atas budaya hak asasi manusia (human right culture). Hal ini menjadi keniscayaan. Dikatakan kita harus belajar menjadi warga dunia (global citizens). Manusia perlu memperlajari kepekaan untuk hidup dalam dunia multikultur. Kewargaduniaan (global citizenship) bukan bawaan genetika namun hanya dapat diper­oleh melalui pendidikan dan pelatihan yang ekstensif. Oleh karena itu kita harus mulai terlebih dahulu mendidik diri kita masing-masing dan menghayatinya.

Globalisasi memunculkan tantangan moral. Mengutip Richard Rorty, Hamelink menyata­kan tidak ada jaminan bahwa penerapan teknologi akan menjadikan keluarga di negara (kurang) berkembang cukup kaya untuk membesarkan anak-anaknya seperti terjadi pada negara maju. Dengan pertanyaan lain : ”Apakah keluarga kaya di negara maju mau berbagi sebagian kekayaan­nya untuk ikut membesarkan anak-anak di negara berkembang jika dapat mengakibatkan ancaman bagi anak-anak mereka sendiri di kemudian hari?” Hanya satu jalan bagi pihak kaya dapat berpikir diri mereka adalah bagian masyarakat moral yang sama dengan masyarakat miskin, jika dan hanya jika ada skenario yang memberikan harapan bagi anak-anak miskin tanpa menimbulkan ancaman bagi anak-anak mereka.

Dengan kata lain: si kaya hanya mau berbuat sesuai prinsip moral solidaritas kemanusia­an yang menjamin kepentingannya tidak akan terganggu atau bahkan terancam. Yang menjadi tantangan moral adalah bahwa aspirasi globalisasi bagi pihak miskin tidak dapat direalisasikan tanpa adanya konsep yang secara serius membatasi prospek pihak kaya. Dalam hal inilah terjadi tarik-menarik kepentingan. Perlu adanya rumusan moral untuk dapat dipakai sebagai pandangan hidup bersama antara si kaya dan si miskin. Jika keduanya tetap hidup dalam nilai moral berbeda, maka pendidikan untuk menghasilkan kewargaduniaan akan gagal. Suatu konsep moral baru perlu dikembangkan dan dipakai sebagai pandangan hidup masyarakat baru dunia global. Niat ini menjadi salah satu tantangan politis globalisasi.

Tentang tantangan politis globalisasi, Hamelink mengatakan diperlukan negara yang kuat dan proaktif untuk menanggulangi dampak negatif globalisasi di bidang tertentu seperti kesempatan kerja dan jaminan sosial. Jika perdagangan global diharapkan mengarah pada terciptanya keseimbangan ekonomi dan perkembangan sosial, maka jelas diperlukan adanya institusi publik yang kuat. Diperlukan mobilisasi dari masyarakat sipil dunia (global civil society) agar menjadi kekuatan sentral untuk mewujudkan kedaulatan warga dunia. Kedaulatan warga masyarakat saja kini terancam oleh mekanisme negara moderen dan pola perekonomian dan aliran modal. Ancaman ini selayaknya dihadapi dan dikawal oleh warga sendiri. Beruntunglah kemajuan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) sangat bermanfaat dan menjadi tulang punggung interaksi warga dunia.

TIK DAN PERPUSTAKAAN

Di atas telah disebut oleh Hamelink bahwa teknologi transportasi dan telekomunikasi disepakati baik oleh pihak pro maupun kontra globalisasi sebagai faktor pendorong utama. Pernyataan itu adalah kondisi pada Tahun 1999. Nampaknya meski teknologi transportasi tetap menjadi utama, namun ternyata teknologi informasi kini lebih dominan. Sehingga tidak salah jika teknologi informasi dan telekomunikasi (TIK) menjadi tulang punggung interaksi warga dunia. Selain menjadi tulang punggung, TIK terbukti juga menjadi pemacu interaksi tersebut. Hal-hal yang dahulu masih menjadi angan-angan kini sudah terwujud. Bahkan yang dahulu tidak pernah terpikirkan justru sekarang muncul karena adanya TIK. Dapat dibayangkan betapa kini keseharian hidup kita ternyata sangat tergantung TIK. Salah satu contoh adalah penggunaan telepon selular

Perpustakaan juga tidak luput dari pengaruh TIK. Bahkan saat sekarang perpustakaan tanpa TIK dapat disebut perpustakaan ”kuna”. Keadaan ini jauh berkembang dibanding dasawarsa 1980-an, saat PDII-LIPI mulai menerapkan sebagian proses dokumentasinya dengan bantuan komputer. Masih ada pendapat dari tokoh pustakawaan yang mengatakan bahwa perpustakaan belum memerlukan komputer. Kebalikannya, kini dapat dikatakan kebanyakan pusta­kawan melihat komputerisasi sebagai tolok ukur utama kemajuan. Juga seakan menjadi kewajiban perpustakaan tampil dalam jaringan internet. Banyak perpusta­kaan membangun situsnya. Namun belum semua perpustakaan menyediakan akses atas pustaka yang dimiliki. Situs yang dikembangkan pada umumnya masih terbatas pada deskripsi perpustakaan saja.

Kelambatan atas upaya akses pada koleksi yang dimiliki perpustakaan, menyebabkan kalah bersaing dengan situs yang dikembangkan oleh pihak non-perpustakaan yang sudah menyediakan akses pada informasi yang mereka miliki. Atau dengan situs yang memang khusus menyediakan akses informasi maupun pengetahuan. Tidak mengherankan jka ada pendapat yang mengatakan bahwa kini tidak diperlukan lagi perpustakaan karena semua informasi dapat ditemukan di Internet. Secara bergurau sering juga didengar pernyataan: ”Dari pada tanya pustakawan, kenapa tidak tanya pada mbah Google jika memerlukan informasi?” Pertanyaan itu merupakan tantangan langsung pada pustakawan. Jawabnya tentu tergantung pada pustakawan sendiri apakah manusia mau dikalahkan oleh sekedar mesin pencari informasi (search engine)? Bagaimana perpustakaan akan menghadapi perkembangan internet dapat dirujuk juga tulisan yang penulis sampaikan pada tahun 2009 (Sudarsono, 2009 a).

Teknologi web sendiri juga sudah berkembang begitu cepat. Kini generasi web kedua atau lebih dikenal dengan Web 2.0 sudah menjadi platform kerja. Fenomena ini berawal pada tahun 2004 dengan diselenggarakannya konferensi mengenai Web yang diprakarsai Tim O'Reilly dan MediaLive International. Menurut Paul Graham, nama 2.0 muncul dari sebuah brainstorming untuk memberi nama kon­ferensi tentang Web, yang berbeda dengan konferensi atau pertemuan tentang Web lain yang pernah dilakukan. Mereka berpenda­pat bahwa sesuatu yang baru akan muncul. Dan inilah yang terjadi munculnya konsep Web 2.0 meski masih memiliki banyak ragam interpretasi. Awalnya Web 2.0 dimaksudkan untuk menjadikan Web sebagai landasan kerja (using the Web as a platform). Makna awal Web 2.0 ini tidak berumur panjang (Graham, 2005). Pergeseran makna muncul tahun berikut-nya (2005) dalam suatu sesi dipimpin Tim O’Reilly yang mencoba mendefinisikan ulang Web 2.0.

Batasan yang muncul adalah sederet kriteria berikut :

  • web 2.0 menggunakan jaringan sebagai landasan kerja yang menjangkau semua peralatan terkoneksi;
  • penerapan web 2.0 memanfaatkan keunggulan intrinsik landasan kerja tersebut;
  • menyediakan peranti lunak yang secara kontinyu diperbaiki karena semakin banyak pengguna yang berpartisipasi dalam upaya itu;
  • memakai dan memadukan data dari beragam sumber termasuk dari setiap individu pemakai;
  • menyediakan data dan jasa dalam format yang memungkinkan dipadukan oleh pihak lain;
  • menciptakan keunggulan jaringan dengan memakai arsitektur yang cocok untuk partisipasi banyak pihak;
  • melebihi kemampuan Web 1.0 karena diperkaya oleh pengalaman para pengguna.

Kriteria di atas menunjuk pada dua hal yang saling mendukung dan menguatkan yaitu sisi teknologi dan sisi hubungan manusia dalam bentuk partisipasi. Sisi teknologi diwakili dengan kelompok peranti blogs, wikis, podcast, RSS, feeds, dll. Sisi sosial adalah dengan terbentuknya jejaring sosial yang akhir-akhir ini semakin meluas. Dengan kata lain web 2.0 adalah kecanggihan teknologi dan kekuatan partisipasi.

Dengan dua hal tersebut wajar bahwa ada pihak yang menaruh minat hanya pada teknologi, namun juga wajar jika ada pihak yang menaruh minat hanya pada partisipasi. Idealnya dua-duanya harus seimbang. Namun dalam suatu organisasi tidak semua orang memiliki dua kemampuan tadi secara seimbang. Dalam hal inilah tugas manajer untuk membangun tim dengan memadukan dua kekuatan tersebut. Karena sifatnya, teknologi selalu harus baru sedang partisipasi adalah klasik sehingga mudah membosankan. Oleh sebab itu banyak orang yang menyangka bahwa konsentrasi konsep 2.0 adalah pada teknologi. Padahal yang benar yang pertama adalah partisipasi, untuk meluaskan dan menguatkan partisipasi ini diperlukan teknologi yang mendukung.

Web 2.0 terbukti juga mengubah pola penyelenggaraan perpustakaan. Dengan teknologi ini memungkinkan pustakawan membangun cara baru penyelenggaraan perpustakaan dengan istilah Perpustakaan 2.0 (Library 2.0). Pengenalan akan konsep Perpustakaan 2.0 (P 2.0) telah penulis sampaikan dalam majalah Visi Pustaka nomor Agustus 2008 (Sudarsono, 2008). Sedang langkah penerapannya telah juga penulis sampaikan dalam tulisan berjudul Menerapkan Perpustakaan 2.0 (Sudarsono, 2009 b). Ide P 2.0 muncul dari Michael E. Casey dalam blognya yang bernama Library Crunch. Dikatakannya bahwa perpustakaan pada umumnya, teru­tama perpustakaan khusus dapat memanfa­atkan berbagai kelebihan Web 2.0.

Dalam konferensi Internet Librarian pada 2005 isu ini mulai diperdebatkan di kalangan pusta­kawan. Seperti layaknya ide baru tentu ada pihak yang pro dan kontra. Pihak kontra mengatakan bahwa tidak ada perubahan mendasar dalam praktik kepustakawanan dengan menerapkan Web 2.0. Sedang pihak yang mendukung mengatakan bahwa de­ngan menerapkan Web 2.0 maka ada ben­tuk baru dari layanan perpustakaan.

Casey dan Laura C. Savastinuk, dalam Library Journal, 9/1/2006 yang berjudul Library 2.0 : Service for the next-generation library. mengatakan bahwa P 2.0 dapat mere­vitalisasi cara kita berinteraksi dan melayani pengguna kita. Jantung P 2.0 adalah perubahan yang berpusat pada pengguna. Merupakan model layanan perpustakaan yang mendorong perubahan berkelanjutan yang berguna, dengan mengundang partisipasi pemakai dalam mencipta serta mengevaluasi baik layanan fisik maupun virtual yang mereka kehendaki. Juga berupaya mencari pengguna baru dan melayani pengguna yang sudah ada dengan lebih baik.

Batasan yang diberikan oleh Sarah Houghton tentang P 2.0 secara singkat adalah membuat ruang perpustakaan (baik fidik maupun virtual) menjadi lebih interaktif, kolaboratif, dan didorong oleh kebutuhan masyarakat pemakai. Awal upaya antara lain dengan menggunakan blogs, permainan (games), dan situs foto bersama. Hal yang mendasar adalah agar orang kembali menggunakan perpustakaan; dengan membuat perpustakaan sesuai dengan kehendak dan kebutuhan hidup keseharian para pemakai. Membuat perpustakaan sebagai tujuan utama dan bukan pilihan akhir. Semua itu secara ringkas dinyatakan oleh Blyberg dengan rumus:

library 2.0 = (books and stuff + people + radical trust) x participation

atau

Perpustakaan 2.0 = (koleksi + orang + keperca­yaan radikal) x partisipasi

Hal yang sudah menjadi lazim dalam perpustakaan adalah koleksi dan orang. Namun parameter partisipasi agak langka, apalagi kepercayaan radikal. Padahal menurut persa­maan di atas, partisipasi menjadi sangat menentukan karena sebagai faktor pengali. Meski nilai buku, orang, maupun kepercayaan radikal adalah tinggi, jika nilai partisipasi nol maka hasil persaman di atas juga nol besar! Jadi kunci dari P 2.0 adalah partisipasi baik pustakawan maupun pengguna perpustakaan. Tentang kepercayaan radikal yang juga masih langka dapat penulis uraikan bahwa :

Tidak sembarang & asal percaya

Idealnya kepercayaan yang saling menumbuhkan

Berawal dari interaksi à menumbuhkan perkenalan à mengembangkan kepercayaan à dan berpuncak pada kepercayaan yang saling menumbuhkan sebagai syarat perpustakaan 2.0

Reorganisasi atas lembaga perpustakaan menjadi keharusan bagi yang menerapkan P 2.0. Tidak saja reorganisasi, bahkan dituntut untuk merevisi tugas dan kewajibannya secara mendasar. Dapat dikatakan P 2.0 akan meruntuhkan ortodoksi dan konservatisme perpustakaan. Ini akan menimbulkan perbedaan pendapat bahkan pertentangan dengan pihak otoritas. Jelas diperlukan keahlian khusus dalam menghadapi pihak otoritas. Seperti telah disebut sebelumnya bahwa P 2.0 tidak sekedar memperbaharui tampilan saja. Diperlukan perubahan radikal dari cara kerja pihak pemasok sistem perpustakaan dan informasi.

Dengan P 2.0 memungkinkan dan memerlukan kerjasama perpustakaan. Adagium yang selama ini dianut perpustakaan adalah tidak ada satu perpustakaanpun yang dapat memenuhi kebutuhan, meski kebutuhan sendiri. Artinya perpustakaan masih memerlukan perpustakaan lain untuk memperoleh informasi yang diperlukan. P 2.0 menjadikan kerjasama antar perpustakaan selain lebih mudah namun juga sebuah keniscayaan. Kenyataan itulah yang terjadi dalam perkembangan perpustakaan. Mungkin dapat dikatakan sebagai revolusi yang mendasar bagi keberlanjutan hidup perpustakaan. Revolusi ini lebih berupa revolusi menyangkut konsep keterbukaan sebuah perpustakaan. Sejauh mana keterbukaan itu? Blyberg menyebut perlunya delapan keterbukaan meliputi:

ruang, standar, data, sumber, pikiran, pertemuan, proses, dan dialog yang terbuka. Dengan delapan keterbukaan itu sebuah perpustakaan siap mengundang pengguna untuk memanfaatkan jasanya. Sebuah undangan: ”Silakan masuk kami sudah siap melayani”.

TRANSFORMASI PUSTAKAWAN

 

Telah penulis sebut di muka bahwa pada dasarnya perpustakaan adalah pustakawannya. Sehingga semua perubahan atau perkembangan sebuah perpustakaan selalu berawal dari diri pustakawannya. Dengan kata lain pustakwan selayaknya bertransformasi menuju pola pikir dan pola tindak baru yang mendukung perubahan tersebut. Dalam kaitannya dengan konsep P 2.0, diperlukan juga transformasi menjadi Pustakawan 2.0. Terminologi ini pertama kali disampaikan oleh Laura Cohen. Berikut adalah manifesto pustakawan 2.0 dan terjemahan penulis. Diharapkan manifesto ini dapat digunakan sebagai check list bagi pustakawan agar dapat selamat dalam perang di era global.

 

MANIFESTO PUSTAKAWAN 2.0

http://liblogs.albany.edu/library20/2006/11/a_librarians_20_manifesto.html

· I will recognize that the universe of information culture is changing fast and that libraries need to respond positively to these changes to provide resources and services that users need and want.

· I will educate myself about the information culture of my users and look for ways to incorporate what I learn into library ser­vices.

· I will not be defensive about my library, but will look clearly at its situation and make an honest assessment about what can be accomplished.

· I will become an active participant in mov­ing my library forward.

· I will recognize that libraries change slowly, and will work with my col­lea­gues to expedite our responsive­ness to change.

· I will be courageous about proposing new services and new ways of providing services, even though some of my colleagues will be resistant.

· I will enjoy the excitement and fun of positive change and will convey this to colleagues and users.

· I will let go of previous practices if there is a better way to do things now, even if these practices once seemed so great.

· I will take an experimental approach to change and be willing to make mistakes.

· I will not wait until something is perfect before I release it, and I'll modify it based on user feedback.

· I will not fear Google or related services, but rather will take advantage of these services to benefit users while also providing excellent library services that users need.

· I will avoid requiring users to see things in librarians' terms but rather will shape services to reflect users' preferences and expectations.

· I will be willing to go where users are, both online and in physical spaces, to practice my profession.

· I will create open Web sites that allow users to join with librarians to contribute content in order to enhance their learning experience and provide assistance to their peers.

· I will lobby for an open catalog that provides personalized, interactive features that users expect in online information environments.

· I will encourage my library's adminis­tration to blog.

· I will validate, through my actions, librarians' vital and relevant professional role in any type of information culture that evolves.

· Saya menyadari bahwa semes­ta buda­ya informasi selalu cepat berubah, dan per­pus­ta­kaan perlu menjawabnya secara posi­tif da­lam menyedia­kan sum­ber daya dan layan­an yang di­perlukan dan diinginkan pengguna,

· Saya akan mendidik diri sendiri tentang budaya informasi pengguna perpustakaan saya dan mencari jalan untuk menyertakan apa yang saya pelajari dalam layanan per­pus­taka­an saya.

· Saya tidak akan bersifat defensif tentang perpustakaan saya, namun akan menyimak dengan jelas situasinya dan melakukan peng­ka­jian secara jujur ten­tang apa yang dapat dicapai.

· Saya akan aktif berpartisipasi da­lam me­­ma­ju­kan perpustakaan saya.

· Saya menyadari bahwa perpustakaan lam­bat berubah, dan akan bekerja ber­sama kole­ga untuk mempercepat ta­ng­gap kami pada perubahan itu.

· Saya akan berani mengusulkan layanan, serta cara baru dalam menyediakannya, meski ada kolega yang menolak.

 

 

· Saya akan menikmati gairah dan kegembi­raan atas perubahan positif dan akan me­nyam­paikannya kepada sejawat maupun pengguna.

 

· Saya akan mengganti cara lama jika dite­mu­kan cara yang lebih baik dalam menger­jakan sesuatu, meski cara lama itu pernah hebat.

 

 

· Saya akan melakukan percobaan untuk berubah dan akan siap jika melakukan kesalahan

 

· Saya tidak akan menunggu sesatu menjadi sempurna sebelum saya melun­curkannya, dan akan mengubahnya ber­basis masukkan pengguna

 

· Saya tidak akan takut pada Google dan layanan terkait, namun akan berupaya mengambil manfaatnya untuk keun­tung­an pengguna, sambil tetap membe­ri­kan layan­an prima yang diperlukan oleh pengguna.

 

· Saya akan menghindari mensyaratkan peng­gu­na dengan jargon pustakawan, na­mun akan mengubah layanan yang mencer­minkan pi­lih­an dan harapan pengguna.

 

· Saya akan bersedia menghampiri pe­ma­kai baik on-line maupun dalam ru­ang fisik dalam mempraktikkan profesi saya..

 

· Saya akan membuat situs web terbuka yang memungkinkan pengguna bersama pustaka­wan menyum­bang isi dalam rangka mening­katkan pengalaman pembelajaran dan mem­be­rikan bantuan pada para kelompok ahli

 

· Saya akan melobi untuk membuat katalog terbuka yang menyediakan fitur personal dan interaktif seperti yang diharapkan pengguna dalam ling­kungan sistem informasi online

 

· Saya akan mendorong administrasi (mana­jemen) perpustakaan saya untuk membuat blog.

 

· Saya akan mencocokkan melalui kegiatan saya peran profesional baik vital maupun terkait dalam setiap budaya informasi yang berubah.

 

 

Statistik Pengunjung

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini1812
mod_vvisit_counterBulan ini52089
mod_vvisit_counterTotal kunjungan1548947

 45 guests, 5 bots online

Foto Pegawai

No images

Peta Pengunjung

Locations of visitors to this page